Archive for the ‘Inspiring’ Category

It’s not about Money

Sunday, April 18th, 2010

Saat akan memulai menulis buku  tentang financial planning untuk penerbit Media Kita, saya teringat sebuah cerita yang ada di dalam buku ‘Master Your Mind Design Your Destiny’ karangan Adam Khoo dan Stuart Tan (sebenarnya, cerita ini juga sudah banyak beredar di internet, namun tidak menyebutkan siapa sebenarnya pemilik cerita ini). Cerita ini begitu menginspirasi sehingga saya pikir tidak ada salahnya untuk menceritakan kembali kepada Anda. Siapa tahu, Anda juga akan terinspirasi.

Saya tidak akan menulis ulang cerita ini dengan sama persis, meski ide dan jalan cerita yang ada di dalamnya tetaplah sama. Selamat menikmati cerita indah ini.

Alkisah ada seorang profesor yang pergi berperahu dengan seorang tukang perahu. Saat perahu bergerak menyusuri sungai, sang profesor bertanya kepada si nelayan,”Apakah kamu pernah belajar Geologi ?” Dengan  terbengong tukang perahu menjawab,”Tidak.”
“Oh, jika begitu, kau akan kehilangan 25 persen hidupmu !” kata sang profesor.
Saat melihat daun yang mengambang di sungai, profesor bertanya lagi,”Apakah kau pernah belajar Botani ?” Si tukang perahu menjawab,”Tidak, profesor..”
Dengan menggelang-gelengkan kepada, profesor berkata,”Berarti kau akan kehilangan 50 persen hidupmu.”
Saat perahu menyusuri sungai dengan pemandangan deretan pegunungan, lagi-lagi profesor bertanya “Apakah kau pernah belajar Geografi ?” Kembali si tukang perahu menjawab “Tentu saja tidak.”
Sang profesor pun berkata “Betapa malangnya dirimu, karena kau akan kehilangan 75 persen hidupmu”.
Saat perahu makin jauh menyusuri sungai, tiba-tiba air sungai bergolak dengan amat kuat. Begitu kuatnya arus air sehingga perahu itu pecah akibat membentur batu besar.
Saat perahu sudah mulai tenggelam, si nelayan berkata kepada profesor “Apakah profesor bisa berenang ?”
Dengan ketakutan, profesor menjawab “Tidak !”
“Ah, jika begitu, profesor akan kehilangan 100 persen hidup !” kata si nelayan sambil berenang menyelamatkan diri.

Ada banyak pesan yang bisa disampaikan dari cerita ini, dan saya akan memberi sedikit simpulan cerita yang berkaitan dengan isi buku yang akan saya tulis

Kadang kita sudah merasa nyaman dengan kondisi keuangan saat ini. Kita sudah merasa cukup dan jarang atau mungkin malah tidak memiliki rencana sama sekali akan apa yang akan dilakukan di kemudian. Kita berada di zona nyaman dimana hidup dilakoni dengan ‘mengalir apa adanya.’

Tidak salah memang. Namun di saat datang peristiwa tidak diduga atau tidak direncana yang membutuhkan banyak uang, kita kebingungan mencari solusinya karena terlambat ‘belajar berenang.’ Berutang kemudian sering menjadi jalan yang dipilih untuk masalah finansial yang kita hadapi. Setelah itu, episod kehidupan akan dilakoni dengan bekerja lebih keras untuk membayar utang-utang itu.

Ellen Goodman, memberi ‘sindiran’ yang sepertinya tepat untuk situasi seperti itu : “Adalah ‘normal’ memakai baju yang Anda beli untuk bekerja, menerobos lalu lintas di sebuah mobil yang sedang Anda angsur untuk sampai di tempat kerja agar Anda mampu membayar baju, mobil dan rumah yang ditinggalkan kosong sehari penuh supaya Anda dapat tinggal di dalamnya.”

Hidup dalam perangkap waktu atau uang semacam itu memang tidak menarik. Semakin banyak uang yang kita punya, semakin sedikit waktu yang kita miliki. Namun jika tidak memiliki uang, waktu yang diperlukan untuk mencari uang juga semakin banyak.

Kondisi yang ideal adalah cukup uang dan waktu. Hidup memang bukan persoalan materi semata, karena kebahagiaan bukanlah berapa jumlah uang yang bisa kita miliki, namun bagaimana kita bisa merasa cukup dengan uang yang kita miliki dan memiliki waktu untuk menikmatinya.

Ada satu lagi parodi kehidupan menarik yang pernah saya baca melalui email dari seorang teman. Barangkali Anda juga pernah membaca cerita ini dari seorang teman melalui internet.

Seorang pengusaha kaya raya dari Amerika yang sedang berjalan-jalan di tepi dermaga sebuah pelabuhan nelayan di Meksiko bertemu dengan seorang nelayan yang membawa kapal berisi banyak ikan tuna yellowfin.
Ia terkagum-kagum melihat hasil tangkapan sebanyak itu dan bertanya kepada si Meksiko berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh semua itu. “Hanya sebentar,” jawab si nelayan.
Si Amerika bertanya mengapa ia tidak melaut lebih lama sehingga bisa menangkap lebih banyak ikan. Si nelayan menjawab bahwa hasil tangkapannya telah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Si Amerika bertanya lagi, “Lalu apa yang Anda lakukan saat memiliki waktu luang ?”
“Saya bermain-main dengan anak-anak di pantai, tidur siang dengan istri saya, berjalan-jalan ke desa setiap sore, bertandang ke rumah teman dan bermain gitar bersama mereka.”
Orang Amerika itu kemudian berkata,”Saya lulus MBA dari Harvard dan saya bisa membantu Anda agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Begini,  Anda seharusnya melaut lebih lama agar dari hasil tangkapan yang banyak Anda bisa membeli beberapa perahu yang lebih besar. Anda kemudian bisa menjual hasil tangkapan itu langsung ke pabrik pengolahan. Dengan uang yang lebih banyak lagi, Anda kemudian bisa memiliki pabrik pengolahan sendiri. Anda kemudian akan mengontrol penangkapan, pengolahan dan distribusi sekaligus. Lalu, Anda bisa meninggalkan pelabuhan kecil ini, pindah ke Mexico City, lalu Los Angeles, lalu New York dimana Anda akan menjadi pemilik dan pemimpin perusahaan ikan besar.”
Si nelayan Meksiko bertanya,” Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk semua itu?”
Orang Amerika menjawab “Kira-kira dua puluh tahun.”
“Lalu, setelah itu?”
Si Amerika tertawa dan berkata lagi, “Inilah bagian terbaiknya. Setelah itu Anda melakukan go-public dimana orang-orang berduit akan berebut membeli saham Anda dengan harga yang tinggi. Anda akan kaya raya !”
“Tetapi setelah itu apa, Senor? ”
Orang Amerika itu berujar, “Setelah itu Anda akan menikmati pensiun. Pindah ke suatu desa nelayan kecil dimana Anda bisa bermain-main dengan anak-anak di pantai, tidur siang dengan istri, berjalan-jalan ke desa setiap sore, bertandang ke rumah teman dan bermain gitar bersama mereka.”

Ah, jika begitu, untuk apa menghabiskan sebagian besar umur kita untuk bersusah-payah mencari uang jika pada akhirnya kebahagiaan hidup sudah bisa diperoleh saat bermain-main dengan anak-anak di pantai, tidur siang dengan istri, berjalan-jalan ke desa setiap sore, bertandang ke rumah teman dan bermain gitar bersama mereka ?  Kehidupan macam apa lagi yang harus dicari ?

Agak sudah juga menjawabnya karena masing-masing orang memiliki cara pandang tersendiri terhadap kehidupan. Tidak ada yang benar dan salah.

Namun seandainya saya duduk di sebelah orang Amerika itu, saya akan memberi dia saran untuk dikatakan kepada si nelayan,”Setidaknya, kita bisa menikmati kehidupan yang mungkin belum pernah dirasakan orang lain. Mencari ilmu setinggi langit agar bisa membantu orang yang tidak tahu menjadi tahu, mendapat  banyak uang untuk menjalani panggilan ibadah suci, memberi lebih banyak sedekah kepada mereka yang membutuhkan dan aktivitas lain yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat. Itu karena hidup harus dilakoni tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk anak-anak, keluarga dan orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita.”

Uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan. Namun tanpa uang, bagaimana kita bisa hidup (bahagia) ? It’s not about money. It’s about the way of life.

Share/Save/Bookmark

Selamat datang di dunia maya!

Friday, November 14th, 2008

Adalah sebuah hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa sinyalemen yang pernah dilontarkan Alvin Toffler akan terjadinya pergeseran dari masyarakat industri menjadi masyarakat informasi kini telah menjadi kenyataan.

Sebuah komunitas baru di masyarakat yang begitu getol memburu informasi (e-community) telah hadir dengan ciri khas tersendiri. Dalam waktu 24 jam sehari, yang sepertinya masih kurang, komunitas ini memburu sekian juta informasi yang setiap saat siap untuk di up-date. Mereka memiliki kesempatan untuk saling berbagi begitu banyak informasi di jagat raya bumi ini melalui sebuah jejaring maya yang dikenal sebagai internet.

Fenomena ini begitu besar pengaruhnya, hingga kemudian muncul sebuah paradigma baru bernama new economy. Dalam artian yang sederhana, ekonomi baru adalah sebuah istilah yang merefleksikan berbagai macam aktivitas dengan basis internet. Dengan term-term e(electronic)-things-nya, ekonomi baru memunculkan banyak istilah di masyarakat seperti e-commerce, e-business, e-banking, dan lain sebagainya.

Don Tapscot, penulis The Digital Economy yang dijuluki Wakil Presiden Amerika Al Gore sebagai salah satu maha guru cyber, mengatakan bahwa perubahan fenomena bisnis yang terjadi pada saat sekarang ini membawa konsekuensi logis yang mengharuskan berbagai macam akivitas mau tidak mau bergabung dalam bisnis di internet.

Salah satu fenomena yang bisa membuktikan adalah banyaknya para pebisnis yang berlomba-lomba terjun di bisnis berbasis internet dan TI (teknologi informasi) atau — meminjam istilah Benoit Marchal — migrating to e-commerce.

Di Amerika, kita bisa melihat banyak perusahaan old-company yang mulai melirik dunia web seperti Sears (sears.com), Procter & Gamble (reflect.com), Barnes & Noble (barnesandnoble.com), Amazon (amazon.com) dan lain sebagainya. Bahkan raja hiburan Time Warner yang berkiprah sejak tahun 1925 dengan total pendapatan sebesar US$ 23 miliar bersedia merger dengan America Online (AOL) yang baru berdiri pada tahun 1985 dengan pendapatan per tahun yang hanya US$ 5, 2 miliar.

Di tanah air, kita juga menyaksikan perusahaan-perusahaan old-company yang melakukan hal serupa. Selain itu, banyak pula bermunculan perusahaan-perusahaan baru (start up) yang menggelar bisnis berbasis internet dan TI. Untuk media, Detik.com bisa memberi contoh kesuksesan bagaimana sebuah situs web bisa menghasilkan uang dari para pemasang iklan.

Menjadi Kaya dari Dunia Maya

Yang lebih fenomenal, banyak individu dan perusahaan kecil yang sebelumnya bukan siapa-siapa mampu menghasilkan keuntungan melebihi yang bisa diperoleh perusahaan-perusahaan besar kelas dunia yang dibangun dengan modal jutaan dolar.

Bahkan di saat banyak perusahaan besar menjadi bangkrut, banyak bisnis start-up yang justru tumbuh pesat. Dan percayakan Anda, jika banyak bisnis yang sukses tersebut dibangun dari dunia maya ?

Mari kita lihat faktanya : disaat Citigroup Inc, Merril Lynch & Co, UBS AB, Deutsche Bank dan banyak perusahaan-perusahaan kelas dunia lain memberitakan bahwa di awal tahun (2008) ini mereka sedang menanggung banyak kerugian, dua bisnis maya Google dan Yahoo! justru mampu menangguk untung. Google bahkan dinobatkan oleh lembaga survei dan konsultan Millward Brown sebagai merek paling kuat sejagad dengan nilai merek senilai US$ 86,1 miliar.

Sergey Brin dan Larry Page bukanlah ‘siapa-siapa’ saat orang-orang kaya semacam Warren Buffet atau Donald Trumph sudah menjadi orang kaya kelas dunia. Namun sekarang, mereka mampu menjadi bagian dari orang-orang kaya dunia dengan dengan kekayaan masing-masing US$16,6 miliar atau Rp 152,3 triliun. Sebagaimana dilansir majalah Forbes, peringkat kekayaan kedua pendiri Google ini menduduki posisi 26 orang-orang terkaya.

Meski ‘tidak sebaik’ Sergey Brin dan Larry Page, Yang Chih-yuan atau Jerry Yang pemilik Yahoo! juga berhasil menghimpun kekayaan US$2,2 miliar atau sekitar Rp 20 triliun. Hobi berselancarnya di internet telah membuat jebolan master Universitas Standford ini menjadi orang kaya ke-432 versi majalah Forbes.

Tokoh fenomenal lain adalah Jack Ma yang merintis Alibaba.com dengan modal US$ 60.000 pada Maret 1999. Meski baru mengenal internet tahun 1995 saat berada di Seattle, AS, kini ia sudah menjadi orang kaya baru di China dengan mesin uang bernama internet sebagai medianya. Yahoo! bahkan baru saja menanamkan dana sebesar US$ 1 miliar untuk ditukar dengan 40% saham Alibaba.

Pemilik Facebook.com dan YouTube.com juga bisa menjadi bukti bahwa internet bisa menjadikan sebuah ’ide liar’ menjadi mesin uang bagi mereka yang jeli melihat peluang.

Meski tidak bisa dipungkiri bahwa semenjak booming dotcom banyak bisnis online yang tumbang, fakta masih membuktikan bahwa dunia maya dengan segala pernak-pernik di dalamnya masih menyimpan banyak ‘misteri’ yang tersembunyi dan belum tergali.

Jika sering menjelajah internet, Anda juga bisa menjumpai banyak anak muda di negeri ini yang sudah menjalankan bisnis melalui internet. Dengan bermodal situs atau bahkan blog gratisan, mereka menjual apa pun yang bisa dijual.

Salah satu yang mendorong suburnya bisnis melalui internet adalah murahnya modal yang diperlukan untuk memiliki sebuah domain. Saat ini, Anda bisa memiliki ‘toko’ di internet dengan sebuah domain dot com yang berharga tidak lebih dari seratus ribu rupiah plus hosting di bawah lima ribu rupiah. Bahkan, script untuk memiliki sebuah toko online juga bisa didapatkan secara gratis seperti yang bisa diunduh dari Oscommerce.com.

Bandingkan jika Anda mendirikan toko di pinggir jalan atau bahkan gerobak dorong sekalipun, tentu modal yang diperlukan lebih dari setengah juta rupiah.

Terlepas dari adanya kenyataan bahwa ada banyak bisnis online yang gagal bertahan, perkembangan dunia maya yang sedemikian pesat tersebut sempat memunculkan anggapan bahwa ekonomi baru dengan e-commerce-nya bakal menciptakan mesin uang bagi pemiliknya.

Menurut Sawidji Widoatmodjo, paling tidak ada 10 bisnis yang akan menjadi mesin uang di masa yang akan datang yaitu e-budget, bisnis suara, software, privacy, transmisi data, iklan rumah dan mobil, server, wireless e-mail, internet content dan solusi.

Jika perkiraan ini benar, maka sudah saatnya bagi siapa saja untuk mulai menengok internet sebagai media bisnis atau bahkan pekerjaan.

Dan hebatnya, bisnis atau pekerjaan melalui internet bisa dilakukan tanpa harus memiliki kantor dan pegawai. Ini artinya, biaya yang harus dikeluarkan juga tidak sebesar bisnis konvensional lain. Cukup dengan komputer atau PDA yang connect dengan internet, aktivitas bisnis sudah bisa dilakukan.

Semacam inilah fenomena yang dimaksudkan pakar manajemen Peter Drucker dalam bukunya Post Capitalist-Society (1994). Pada era ini, untuk mendirikan perusahaan — utamanya jasa – tidak lagi diperlukan modal besar dan banyak pekerja. Bermodal handphone atau notebook, bisnis bisa dilakukan hanya dengan koneksi internet.

Mari kita bayangkan contoh sederhana berikut : seorang penjual software membuat sebuah toko online dengan membeli domain plus hosting dengan biaya tidak lebih dari yang harus dikeluarkan untuk membuat gerobak dorong. Saat ada pengunjung yang tertarik membeli, si pembeli akan mengisi form pemesanan dan melakukan transfer ke rekening bank atau internet account (paypal, e-gold, 2checkout, dll) milik si penjual. Dengan sistem mobile banking, si penjual akan mendapatkan informasi melalui sms bahwa ada kiriman uang untuknya. Setelah di cek kebenarannya melalui internet banking, si penjual tinggal meng-aktif-kan status order si pembeli. Saat itu juga, si pembeli sudah bisa men-download software yang dia pesan. Selesai.

Well, jika bisnis dilakukan dengan cara semacam itu, bukankah akan ada banyak penghematan ? Bayangkan berapa penghematan yang bisa didapatkan dari Amazon. Mereka tidak memiliki toko buku dalam bentuk fisik, namun mampu menjadi toko buku online terbesar di dunia.

Contoh diatas barangkali terlalu sederhana untuk dijadikan pemisalan. Namun kenyataannya, sudah ada ribuan orang yang melakukannya.

Cobalah melakukan browsing maka Anda akan menemukan ‘industri ebook’ dimana banyak orang dengan modal minimal menjual produk informasi dalam bentuk e-(electronic)book sebagai contohnya. Mereka menjual produk informasi dengan biaya produksi nyaris nol karena informasi tersebut dijual bukan dalam bentuk print edition, namun berupa file dalam format pdf atau exe.

Selain produk digital yang laris manis dijual melalui internet, para penjual jasa juga banyak yang mendapatkan keuntungan nyata dari dunia maya.

Ken Calhoun - dengan DaytradingUniversity.com mampu membukukan penghasilan $300,000 per tahun. Robert Clark – pemilik website investigasi yang mampu menghasilkan laba $250,000 per tahun. Preston Reuther – penghasilan $50,000 per bulan dengan membimbing orang membuat perhiasan dari rumah melalui http://wire-sculpture.com. Michael Webb – mendapatkan $8,000 per bulan dengan memberi nasihat relationship melalui Theromantic.com.

Fakta bahwa pegiat citizen media atau blogger bisa meraup uang dari internet barangkali juga bisa menguatkan pendapat ini. Nick Denton, pengelola Gawker Media, meraup ribuan dollar per bulan dengan hanya menjual ruang iklan di blog-nya. Henry Copeland, founder BlogAds.com, mengatakan bahwa seorang blogger bisa mengantongi $2,000 sampai $10,000 per bulan dari iklan yang ditempatkan di blognya. Dalam periode waktu tertentu, pendapatan yang bisa diperoleh bahkan bisa lebih. Ken Layne dari Wonkotte.com, blog gosip politik milik Gawker Media, menyebutkan pendapatan blogger yang berkisar antara $20,000 sampai $30,000 per bulan semasa masa kampanye.

Inilah ‘the hidden money’ yang sudah saatnya Anda juga bisa peroleh dari internet dengan cara mudah, simpel dan punya potensi untuk terus berkembang — karena pengguna internet juga pasti akan semakin banyak.

Maka jika kita lihat semakin bertambahnya jumlah penduduk dunia yang melek internet, menjadi terlalu sayang untuk membiarkan begitu saja besarnya peluang yang bisa dimanfaatkan.

Sampai dengan akhir tahun 2007, pengguna internet di seluruh dunia mencapai angka 1,114 miliar dengan populasi terbesar dari kawasan Asia. China menduduki peringkat pertama (200 juta pengguna) diikuti Amerika Serikat (135 juta pengguna) dan Jepang (86,3 juta pengguna). Sedangkan jumlah pengguna internet di Indonesia menurut data dari APJII baru mencapai 25 juta atau hanya 9% dari total penduduk.

Jutaan penduduk dunia ini adalah pasar global yang sangat mungkin disasar dengan hanya memanfaatkan akses internet.

Masih banyak harta karun terpendam yang belum tergali. Dan jika ada begitu banyak peluang nyata yang bisa dihasilkan dari dunia maya, bukankah setiap orang juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkannya ?

Selamat datang di dunia maya!

Share/Save/Bookmark

Kembali ke Laptop

Friday, November 14th, 2008

Dunia maya adalah ladang uang yang tiada habisnya. ‘Sumur tanpa dasar’ ini sesungguhnya memiliki banyak harta karun terpendam yang bisa digali dan dimiliki oleh mereka yang jeli melihat peluang di dalamnya. The world is not enough.

Meski tidak bisa dipungkiri bahwa semenjak booming dotcom banyak bisnis online yang tumbang, fakta masih membuktikan bahwa dunia maya dengan segala pernak-pernik di dalamnya masih menyimpan banyak ‘misteri’ yang tersembunyi dan belum tergali.

Jika dulu Columbus berburu emas dan rempah-rempah sebagai modal penghimpun kekayaan, maka modal yang bisa diperoleh di era saat ini adalah knowledge. Jika dulu dibutuhkan satu dekade waktu untuk menciptakan sebuah produk baru, saat sekarang hanya diperlukan waktu sekian bulan untuk menyadarkan konsumen bahwa produk yang baru dibeli telah menjadi usang. Jika dulu diperlukan waktu sekian hari untuk mengirim surat atau paket ke manca negara, maka sekarang hanya diperlukan waktu per detik untuk berkirim email atau mengunduh file produk yang dibeli. Maka benar bahwa kita sedang dan akan hidup di sebuah dunia yang serba cepat.

Koneksitas global seperti ini pada akhirnya menimbulkan dampak yang sangat luas di hampir seluruh aspek kehidupan. Meminjam istilah Anthony Giddens, bumi kini tak ubahnya sebuah kampung global (global village).

Dunia kini tak lebih sebagai tempat dimana umat manusia bisa saling bersua, berbagi pesan, berbagi pikiran dan berhubungan dengan cepat tanpa membutuhkan waktu dan tenaga yang berlebihan. Kutub-kutub pemisah jarak dan waktu, seolah sudah sedemikian dekatnya sehingga disparitas yang sebelumnya melebar, kini menjadi kian sempit.

Kembali ke Laptop

Pengamatan yang dilakukan William A.Sahlman, seorang profesor dari Harvard Business School, barangkali bisa menggambarkan perwujudan new economy dalam aktivitas keseharian.

Dalam pengamatannya ia melihat bahwa lulusan terbaik MBA saat ini lebih memilih untuk menjadi netpreneur di silicon valley ketimbang menjadi konsultan atau bankir. Hal yang sama juga dilakukan oleh banyak mahasiswa dari luar AS saat pulang kandang ke negerinya dan membangun bisnis berbasis internet.

Selain Filipina dan beberapa negara di Eropa Timur, India adalah salah satu negara yang memilki banyak orang yang memanfaatkan outsourcing. Maka jika kita berjalan-jalan di Bangalore, akan banyak ditemui industri atau orang yang sedang menggarap proyek milik perusahaan akbar yang berkantor di Amerika.

Dan salah satu ‘keajaiban’ dunia maya adalah ada banyak mesin uang yang bisa diperoleh dengan sedikit atau bahkan tanpa modal sekali pun. Sawah ladang berupa website atau blog gratisan yang banyak tersedia dimana-mana hanyalah sedikit cara yang bisa dilakukan untuk bisa menambang uang.

Fakta bahwa pegiat citizen media atau blogger bisa meraup uang dari internet barangkali bisa membenarkan hipotesis ini. Henry Copeland, founder BlogAds.com, mengatakan bahwa seorang blogger bisa mengantongi $2,000 sampai $10,000 per bulan dari iklan yang ditempatkan di blognya. Ken Layne dari Wonkotte.com, blog gosip politik milik Gawker Media, menyebutkan pendapatan blogger yang berkisar antara $20,000 sampai $30,000 per bulan semasa masa kampanye.

Lantas, masih adakah alasan untuk keukeuh mencari kerja dan menjadi karyawan ?

Share/Save/Bookmark