Kembali ke Laptop

Dunia maya adalah ladang uang yang tiada habisnya. ‘Sumur tanpa dasar’ ini sesungguhnya memiliki banyak harta karun terpendam yang bisa digali dan dimiliki oleh mereka yang jeli melihat peluang di dalamnya. The world is not enough.

Meski tidak bisa dipungkiri bahwa semenjak booming dotcom banyak bisnis online yang tumbang, fakta masih membuktikan bahwa dunia maya dengan segala pernak-pernik di dalamnya masih menyimpan banyak ‘misteri’ yang tersembunyi dan belum tergali.

Jika dulu Columbus berburu emas dan rempah-rempah sebagai modal penghimpun kekayaan, maka modal yang bisa diperoleh di era saat ini adalah knowledge. Jika dulu dibutuhkan satu dekade waktu untuk menciptakan sebuah produk baru, saat sekarang hanya diperlukan waktu sekian bulan untuk menyadarkan konsumen bahwa produk yang baru dibeli telah menjadi usang. Jika dulu diperlukan waktu sekian hari untuk mengirim surat atau paket ke manca negara, maka sekarang hanya diperlukan waktu per detik untuk berkirim email atau mengunduh file produk yang dibeli. Maka benar bahwa kita sedang dan akan hidup di sebuah dunia yang serba cepat.

Koneksitas global seperti ini pada akhirnya menimbulkan dampak yang sangat luas di hampir seluruh aspek kehidupan. Meminjam istilah Anthony Giddens, bumi kini tak ubahnya sebuah kampung global (global village).

Dunia kini tak lebih sebagai tempat dimana umat manusia bisa saling bersua, berbagi pesan, berbagi pikiran dan berhubungan dengan cepat tanpa membutuhkan waktu dan tenaga yang berlebihan. Kutub-kutub pemisah jarak dan waktu, seolah sudah sedemikian dekatnya sehingga disparitas yang sebelumnya melebar, kini menjadi kian sempit.

Kembali ke Laptop

Pengamatan yang dilakukan William A.Sahlman, seorang profesor dari Harvard Business School, barangkali bisa menggambarkan perwujudan new economy dalam aktivitas keseharian.

Dalam pengamatannya ia melihat bahwa lulusan terbaik MBA saat ini lebih memilih untuk menjadi netpreneur di silicon valley ketimbang menjadi konsultan atau bankir. Hal yang sama juga dilakukan oleh banyak mahasiswa dari luar AS saat pulang kandang ke negerinya dan membangun bisnis berbasis internet.

Selain Filipina dan beberapa negara di Eropa Timur, India adalah salah satu negara yang memilki banyak orang yang memanfaatkan outsourcing. Maka jika kita berjalan-jalan di Bangalore, akan banyak ditemui industri atau orang yang sedang menggarap proyek milik perusahaan akbar yang berkantor di Amerika.

Dan salah satu ‘keajaiban’ dunia maya adalah ada banyak mesin uang yang bisa diperoleh dengan sedikit atau bahkan tanpa modal sekali pun. Sawah ladang berupa website atau blog gratisan yang banyak tersedia dimana-mana hanyalah sedikit cara yang bisa dilakukan untuk bisa menambang uang.

Fakta bahwa pegiat citizen media atau blogger bisa meraup uang dari internet barangkali bisa membenarkan hipotesis ini. Henry Copeland, founder BlogAds.com, mengatakan bahwa seorang blogger bisa mengantongi $2,000 sampai $10,000 per bulan dari iklan yang ditempatkan di blognya. Ken Layne dari Wonkotte.com, blog gosip politik milik Gawker Media, menyebutkan pendapatan blogger yang berkisar antara $20,000 sampai $30,000 per bulan semasa masa kampanye.

Lantas, masih adakah alasan untuk keukeuh mencari kerja dan menjadi karyawan ?

Share/Save/Bookmark

Comments are closed.