Good Guys Go To Heaven, Bad Guys Go To Pattaya
Memenuhi undangan Sidang Tahunan Federation of ASEAN Economist Association (FAEA) ke-32 yang diselenggarakan di Thailand pada tanggal 7-8 Desember 2007, saya bersama pengurus dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Semarang berangkat menuju Bangkok. Pertemuan ini memang sudah direncanakan sebelumnya saat Sidang Tahunan FAEA ke-31 di Singapura pada tanggal 23 November 2006 tahun lalu.
Berangkat dari Semarang pada 6 Desember 2007 dengan pesawat Garuda pukul 08.35. Dari Jakarta pukul 11.10, kami berganti penerbangan memakai Malaysia Airlines menuju Bangkok setelah sebelumnya transit di Kuala Lumpur. Sebelum mendarat tepat pukul 16.30 waktu Bangkok, sebagian wilayah Thailand terlihat begitu mempesona. Dari jendela pesawat terlihat sungai Chao Phraya, gedung-gedung pencakar langit, kesibukan lalu lintas darat dan skytrain yang membelah kota.
Saat menginjakkan kaki di Suvarnabhumi (baca : su-wan-na-poom), kemewahan dan kemegahan bandar udara yang berarti ‘Golden Land’ ini begitu terlihat. Pesona yang diberikan Thailand sebagai negara tujuan wisata terbaik dunia dalam Grand Travel Award 2005 sepertinya sudah dimulai saat memasuki bandara yang terletak di distrik Bang Phli ini.
Berjarak sekitar 25 kilometer di timur Bangkok, Suvarnabhumi memiliki menara pengawas tertinggi di dunia (132.2 m) dengan bangunan tunggal dan terminal lapangan terbang yang kedua terbesar di dunia (563,000 m²). Fasilitas yang disediakan boleh dibilang sangat lengkap sehingga jalan-jalan di bandara ini bisa menjadi keasyikan tersendiri. Parkir mobil yang mampu menampung ribuan kendaraan terletak di depan terminal penumpang. Rapi, bersih dan tertib. Tak heran jika pemerintah Thailand berusaha menjadikan bandara ini menjadi pusat kargo terbesar di Asia.
Dalam perjalanan menuju hotel yang kebetulan nyaris tanpa macet, kami menyaksikan betapa ulang tahun Raja Bhumibol Adulyadej yang ke-80 benar-benar dirayakan oleh rakyatnya. Poster-poster potret diri Bhumibol Adulyade terpampang di sepanjang jalan, gedung-gedung bertingkat dan bahkan bus kota.
Menjelang maghrib, taksi yang mengantar kami dari bandara dengan ongkos 500 baht sampai di Montien Riverside Hotel. Sewa kamar hotel berbintang lima ini 3200 baht per hari atau Rp 992.000 dengan kurs Rp 310. Ini berarti kami harus mengeluarkan 12800 baht per hari selama 4 hari karena kami kebagian pesawat ke Indonesia pada 10 Desember 2007.
Hotel ini terletak di pinggir sungai Chao Phraya, sungai pertemuan dari sungai Ping, Wang, Yom, dan Nan di daerah Nakhon Sawan yang berada di wilayah utara Thailand. Sejak Bangkok didirikan pada tahun 1782, sungai Chao Phraya telah berfungsi sebagai tempat irigasi, pasar terapung dan transportasi penduduk sekitar melalui kanal-kanal yang ada.
Dari lantai 26, terlihat keindahan sungai Chao Phraya seperti yang digambarkan oleh Anna Leonowens dalam bukunya The English Governess at the Siamese Court dan The Romance of the Harem yang kemudian dinovelkan Margaret Landon dengan judul Anna and The King of Siam. Pantulan lampu-lampu bangunan di pinggir sungai dan sinar kapal yang lalu lalang di sungguh membuat momen yang sulit dilupakan.
Pagi harinya, sembulan matahari nampak begitu indah. Pantulan sinarnya berkilau di sepanjang sungai yang oleh para pendatang dari Eropa disebut sebagai Venesia dari Timur.
7 Desember 2007, seminar dengan tema ‘Politics and Economic Development of ASEAN’ dibuka pada pukul 09.00 waktu Bangkok oleh DR.Narongchai Akrasanee, Presiden The Economic Society of Thailand.
Berbeda dengan jumlah emas yang berhasil diraih kontingen Indonesia di SEA GAMES XXIV, jumlah peserta dari Indonesia dalam seminar ini justru yang paling banyak. Seminar dikuti peserta dari Thailand (33 orang), Indonesia (46 orang), Malaysia (8 orang), Filipina (2 orang), Singapura (6 orang), Vietnam (5 orang) dan Kamboja (3 orang). Boleh dikatakan seminar kali ini adalah pertemuan ilmiah karena hampir seluruh pemakalah tampil adalah dosen dari beberapa universitas.
Seminar selesai pukul 15.00 pada 8 Desember 2007. Tahun depan disepakati pertemuan akan diadakan pada bulan November di Hanoi. Jika berminat, Anda bisa bergabung menjadi anggota ISEI dan mengirimkan paper untuk seminar tersebut. Jika paper diterima untuk dipresentasikan, tahun depan Insya Allah bisa ke Hanoi.
Malah harinya, panitia mengundang seluruh peserta dalam acara Farewell Dinner Cruise. Ini adalah acara makan malam bersama di atas perahu menyusuri sungai Chao Phraya.
Setiap hotel yang berlokasi di tepi sungai ini pada umumnya menyediakan acara santap malam semacam ini, seperti Hotel Yok Yor Marina, Loy Nava dan Supatra River House. Diiringi hiburan karaoke, kami menyantap menu-menu istimewa seperti salad mangga (yam mammuang), ayam bungkus pandan (goy Hor Bytoy), nasi goreng nenas (khaopad sapparod), ikan kerapu sauce (plakao samrord), es merah delima (tam tib krob), mie Thai, sup nasi ikan (Khao Tom Pla), nasi ayam (Khao Man Gai) dan banyak lagi yang kami sendiri tidak tahu namanya.
Yang istimewa pada malam itu barangkali bukan menu masakan yang disajikan, namun pemandangan di kanan-kiri perahu yang begitu mempesona. Rumah makan terapung, perahu-perahu pesiar, bangunan-bangunan kuno, rumah-rumah penduduk, tempat-tempat ibadah, kampus dan banyak lagi yang lain adalah sebagian pemandangan yang bisa membenarkan survei tentang pariwisata dunia 2007 bahwa Thailand adalah tujuan utama pada daftar berlibur para pelancong dunia.
Nampak sekali kehidupan warga ‘Krung Thep’ di Sungai Chao Phraya yang tak berhenti saat malam datang. Semakin larut, semakin ‘hidup.’ Apalagi saat itu adalah saat rakyat Thailand merayakan ulang tahun rajanya. Hampir pada setiap kapal yang kami temui berhiaskan lampu dengan tulisan ‘Long Live King.’
Tiga jam berlalu tanpa terasa saat perahu merapat kembali di dermaga dan kami harus kembali ke hotel untuk beristirahat. Apa yang kami lihat saat itu tentu ‘belum seberapa’ karena panjang Sungai Chao Phraya yang berarti Sungai Raja ini diperkirakan mencapai 370 kilometer hingga bermuara di Teluk Thailand (maybe next time).
Minggu pagi, 9 Desember 2007 kami ‘berdiskusi’ bagaimana memanfaatkan waktu yang hanya tinggal sehari karena ada banyak sekali pesona Thailand yang sebenarnya bisa dieksplorasi. Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke Pattaya dengan memakai taksi.
Butuh waktu 2 jam untuk sampai di kota yang jaraknya 115 km Bangkok ini. Beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi antara lain Pattaya Beach, Jomtien Beach, Sriracha Tiger Zoo, Khao Pattaya (bukit dengan pemandangan kota Pattaya), Alangkarn (Extravaganza ala Las Vegas), Ko Lan (pulau dengan pantai-pantai berpasir putih), Suan Nong Nooch Tropical Garden, Underwater World Pattaya (akuarium laut), Pattaya Crocodile Farm, Mini Siam, Elephant Village dan banyak lagi yang lain.
Sampai di ibukota Chonburi yang memiliki atraksi wisata seperti pantai Patong, Siam City dan Dream World ini, kami jadi teringat Malioboro karena jalan-jalan dan suasananya nyaris sama. Bedanya, Pattaya yang dulunya kampung nelayan ini banyak menyuguhi hiburan ‘surga dunia.’ Tak ada ‘under cover,’ karena sudah dikemas dalam ‘hard cover.’
Karena ‘target pasar’ kami berbeda dengan yang ‘semacam itu,’ yang kamu lakukan kemudian adalah berjalan-jalan di sudut-sudut kota sekaligus mencari cinderamata khas Thailand. Padahal sebenarnya, harga cinderamata di Pattaya lebih mahal daripada di Bangkok. Sayang, kebanyakan pedagang yang kami temui tidak begitu mengerti bahasa Inggris sehingga bargaining yang dilakukan untuk membeli barang dilakukan memakai kalkulator.
Senin, 10 Desember 2007, kami check out dari hotel dengan taksi yang sudah menunggu kami sejak pukul 5 pagi. Pukul 10.35, Malaysia Airlines membawa kami ke Malaysia. Setelah transit di Kuala Lumpur hampir 3 jam, penerbangan diteruskan dan sampai di Jakarta pukul 17.30.
Karena tidak ada lagi penerbangan ke Semarang, kami pulang ke Semarang memakai kereta api dari Stasiun Gambir pukul 21.30. Sampai di Stasiun Tawang hari Selasa pukul 04.00, masing-masing dari kami harus pulang ke rumah memakai ojek karena para sopir taksi sedang cuti bersama alias mogok kerja…
Tags: Pattaya
